Sabtu, 05 Maret 2011

1. SIMPLE PRESENT TENSE

Present Tense is used to talk about something in general. And it is also used to talk about something which is happened repeatedly or habituallly activities

Formula : SUBJECT + TO BE (AM, IS, ARE) + OBJECT

SUBJECT – VERB 1 + OBJECT

Example :

· (+) You are lazy

(-) You are not lazy

(?) Are you lazy?

· (+) I go to school

(-) I do not go to school

(?) do I go to school?

2. PRESENT CONTINUOUS TENSE

We use The Present Continuous Tense when we talk about something which is happening at the time of speaking

Formula : SUBJECT + TO BE (AM, IS, ARE) + VERB 1 + ING + OBJECT

Example :

· (+) I am writing the letter to my friend

(-) I am not writing the letter to my friend

(?) Am I writing the letter to my friend?

· (+) You are fishing in the river now

3. PRESENT PERFECT TENSE

The present perfect tense is used to talk about a past time, which has very strong meaning for the present

Formula : SUBJECT + HAVE/HAS + BEEN + OBJECT

SUBJECT – HAVE/HAS + VERB III + OBJECT

Example :

· (+) I have been here just now

I have not been here just now

(?) Have I been here just now?

· (+) She has been busy since this morning

(-) She has not busy since this morning

4. PRESENT PERFECT CONTINUOUS TENSE

The present continuous tense is often used (with for or since) to describe how long something has been happening up to now

Formula : SUBJECT + HAVE/HAS + BEEN + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) We have been living in Surabaya for three years

(-) We have not been living in Surabaya for three years

(?) Have we been living in Surabaya for three years?

5. SIMPLE PAST TENSE

We use the past simple to talk about actions or situations in the past.

Formula : SUBJECT + TO BE (WAS, WERE) + OBJECT

SUBJECT + VERB II + OBJECT

· (+) I was a girl

(-) I was not girl

· (?) Was I a girl?

(+) He went there

(?) He did not go there

6. PAST CONTINUOUS TENSE

We use past continuous Tense to say that someone was in the middle of doing something at a certain time. The action or situation had already started before this time but hadn’t finished

Formula : SUBJECT + TO BE (WAS, WERE) + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) You were sleeping all night yesterday

(-) You were not sleeping all night yesterday

(?) Were you sleeping all night yesterday?

7. PAST PERFECT TENSE

We use the Past perfect to say that something had already happened before this time

Formula : SUBJECT + HAD + BEEN + OBJECT

SUBJECT + HAD + VERB III + OBJECT

Example :

(+) I had been here before 2003

(-) I had not been here before 2003

(?) Had I been here before 2003?

8. PAST PERFECT CONTINUOUS TENSE

The past perfect continuous tense is used to talk about longer situation that continued up to the moment in the past we are talking about

Formula : SUBJECT + HAD + BEEN + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) I had been staying here since 2002

(-) I had not been staying here since 2002

(?) Had I been staying here since 2002?

9. SIMPLE FUTURE TENSE

We sometimes use the simple present form to discuss future event

Formula : SUBJECT + SHALL/WILL + BE + OBJECT

SUBJECT + SHALL/WILL + VERB I + OBJECT

Example :

(+) I shall be here tomorrow

(-) I shall not be here tomorrow

(?) Shall I be here tomorrow?

10. FUTURE CONTINUOUS TENSE

It is often used to ask about and discuss future arrangements or plans with just the addition of a future time, but you only use it whwn these arrangements are certain

Formula : SUBJECT + SHALL/WILL + BE + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) I shall be visiting Tantular Museum tomorrow

(-) I shall not be visiting Tantular Museum tomorrow

(?) Shall I be visiting Tantular Museum tomorrow?

11. FUTURE PERFECT TENSE

We use the Future Perfect tense to express an action that will be finished before some point in the future

Formula : SUBJECT + SHALL/WILL + HAVE + BEEN + OBJECT

SUBJECT + SHALL/WILL + HAVE + VERB III + OBJECT

Example :

(+) We shall have been here last January

(-) We shall not have been here last January

(?) Shall we have been here last January?

12. FUTURE PERFECT CONTINUOUS TENSE

We use the future perfect continuous to show that something will continue up until a particular event or time in the future

Formula : SUBJECT + SHALL/WILL + HAVE + BEEN + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) I shall have been going to Bali for a week

(-) I shall not have been going to Bali for a week

(?) Shall I have been going to Bali for a week?

13. PAST FUTURE TENSE

expressing an occurence to happened at past

Formula : SUBJECT + SHOULD/WOULD + BE + OBJECT

SUBJECT + SHOULD/WOULD + VERB I + OBJECT

Example :

(+) I should be in Jakarta next week

(-) I should not be in Jakarta next week

(?) Should I be in Jakarta next week?

14. PAST FUTURE CONTINUOUS TENSE

expressing an occurence to is happened at past

Formula : SUBJECT + SHOULD/WOULD + BE + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) We should be playing badminton last week

(-) We should not be playing badminton last week

(?) Should we be playing badminton last week?

15. PAST FUTURE PERFECT TENSE

expressing an occurence to completed at past or express deed which not possible to happened because its condition surely do not fufilled.

Formula : SUBJECT + SHOULD/WOULD + HAVE + BEEN + OBJECT

SUBJECT + SHOULD/WOULD + HAVE + VERB III + OBJECT

Example :

(+) I should have been here if he met you

(-) I would not have here if he met you

(?) Should I have been here if he met you

16. PAST FUTURE PERFECT CONTINUOUS TENSE

expressing an occurence which ought to have underway some times at past

Formula : SUBJECT + SHOULD/WOULD + HAVE + BEEN + VERB I + ING + OBJECT

Example :

(+) I sould have been working in the office for two years last year

(?) I sould not have been working in the office for two years last year

Jumat, 21 Mei 2010

Opini : Perencanaan penulisan mempengaruhi kualitas tulisan

Menulis bukan pekerjaan yang sulit tapi juga tidak mudah. Untuk memulai menulis, setiap penulis tidak perlu menunggu menjadi seorang penulis yang terampil. Belajar teori menulis itu mudah, tetapi untuk mempraktikkannya tidak cukup sekali dua kali. Frekuensi latihan menulis akan menjadikan seseorang terampil dalam bidang tulis-menulis.

Tahap persiapan atau prapenulisan adalah ketika pembelajar menyiapkan diri, mengumpulkan informasi, merumuskan masalah, menentukan fokus, mengolah informasi, menarik tafsiran dan inferensi terhadap realitas yang dihadapinya, berdiskusi, membaca, mengamati, dan lain-lain yang memperkaya masukan kognitifnya yang akan diproses selanjutnya.

Sekurang-kurangnya, ada tiga komponen yang tergabung dalam pembuatan tulisan, yaitu:

(1) penguasaan bahasa tulis, yang akan berfungsi sebagai media tulisan, meliputi: kosakata, struktur kalimat, paragraf, ejaan, pragmatik, dan sebagainya;

(2) penguasaan isi karangan sesuai dengan topik yang akan ditulis; dan

(3) penguasaan tentang jenis-jenis tulisan, yaitu bagaimana merangkai isi tulisan dengan menggunakan bahasa tulis sehingga membentuk sebuah komposisi yang diinginkan, seperti esai, artikel, cerita pendek, makalah, dan sebagainya.

Proses menulis dapat dideskripsikan sebagai proses pemecahan masalah yang kompleks, yang mengandung tiga elemen, yaitu lingkungan tugas, memori jangka panjang penulis, dan proses menulis. Pertama, lingkungan tugas adalah tugas yang penulis kerjakan dalam menulis. Kedua, memori jangka panjang penulis adalah pengetahuan mengenai topik, pembaca, dan cara menulis. Ketiga, proses menulis meliputi tiga kegiatan, yaitu:

(1) merencanakan (menentukan tujuan untuk mengarahkan tulisan),

(2) mewujudkan (menulis sesuai dengan rencana yang sudah dibuat), dan

(3) merevisi (mengevaluasi dan merevisi tulisan).

Ketiga kegiatan tersebut tidak merupakan tahap-tahap yang linear, karena penulis terus-menerus memantau tulisannya dan bergerak maju mundur. Peninjauan kembali tulisan yang telah dihasilkan ini dapat dianggap sebagai komponen keempat dalam proses menulis. Hal inilah yang membantu penulis dapat mengungkapkan gagasan secara logis dan sistematis, tidak mengandung bagian-bagian yang kontradiktif. Dengan kata lain, konsistensi (keajegan) dan kualitas tulisan atau isi gagasan dapat terjaga.

Jadi, dengan adanya perencanaan yang matang dalam merangkai sebuah tulisan, memudahkan penulis untuk menentukan arah gagasan dan ide yang akan dikembangkan. Sehingga tulisan menjadi suatu output atau hasil yang memuaskan karena tercipta dari perencanaan yang baik.

Jumat, 09 April 2010

Diksi dan Paragraf

TUGAS 3

Dua persyaratan pokok yang harus diperhatikan dalam memilih kata (diksi), yaitu ketepatan dan kesesuaian. Sebutkan dan jelaskan unsur-unsur yang menjadi bagian dari kedua syarat pokok tersebut!

Ketepatan adalah kesesuaian pemakaian unsur-unsur yang membentuk suatu kalimat sehingga tercipta suatu pengertian yang baik.dalam mengungkapkan sebuah gagasan atau ide.

Syarat Ketepatan pemilihan kata, terdapat 6 syarat, yaitu :

1. Dapat membedakan antara denotasi dan konotasi.

- Bunga mawar

- Bunga bank

2. Dapat membedakan kata-kata yang hampir bersinonim.

- Pengubah

- Peubah

3. Dapat membedakan kata-kata yang hampir mirip ejaanya.

- Intensif – insetif

- Intensif – insentif

4. Dapat memahami dengan tepat makna kata - kata abstrak.

- Kebijakan, kebajikan, kebijaksanaan.

5. Dapat memakai kata penghubung yang berpasang secara tepat.

- Antara….dan….

- Tidak….tetapi…

6. Dapat membedakan kata-kata umum dan kata khusus.

- Kata umum : melihat

- Kata khusus : melirik, melotot, mengamati, mengawasi.

Kesesuaian adalah kecocokan dalam penggunaan kata, kecocokan mencakup soal kata mana yang akan digunakan dalam kesempatan tertentu. Walaupun terkadang masih terdapat beberapa perbedaan seperti tata bahasa, pola kalimat, panjang atau kompleknya suatu alinea, dan segi lainnya.

Syarat Kesesuaian pemilihan kata, yaitu :

1. Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam situasi yang formal

2. Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata popular.

3. Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.

4. Penulis atau pembicara sebisa mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang.

5. Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan.

6. Hindarilah ungkapan-ungkapan using (idiom yang mati).

7. Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artfisial.

TUGAS 4

Paragraf yang baik adalah paragraph yang mengandung kesatuan, kepaduan, dan kelengkapan (pengembangan). Jelaskan maksud pernyataan tersebut kemudian buatlah contoh paragraph yang memperlihatkan adanya ketiga unsur diatas!

Syarat Paragraf yang Baik
Tidak semua kumpulan kalimat dapat dikatakan sebagai sebuah paragraf, dan tidak semua paragraf dapat dikatakan sebagai paragraf yang baik. Kumpulan kalimat yang saling berhubungan dan memenuhi persyaratan tertentu sajalah yang dapat dikatakan sebuah paragraf. Paragraf yang baik hendaklah memenuhi persyaratan: kesatuan, kepaduan, kelengkapan, dan urutan.
Paragraf hendaknya hanya memuat satu kalimat topik dan setiap paragraf hendaknya memiliki unsur kelengkapan, yaitu memiliki beberapa kalimat penjelas yang bisa berupa fakta-fakta atau contoh-contoh. Selain itu, kalimat-kalimat yang membangun paragraf tersebut hendaknya benar-benar saling berhubungan. Secara lengkap, syarat paragraf yang baik adalah sebagai berikut.

1) Kesatuan (Unity)
Anda tentunya pernah mengalami kesulitan tentang cara mengakhiri atau berganti paragraf ketika mendapat tugas mengarang dari guru Anda. Kesulitan itu terjadi karena Anda kurang memahami bahwa tulisan Anda telah berganti kalimat topik. Perubahan topik itu merupakan tanda pergantian paragraf.
Paragraf yang mengandung banyak kalimat topik dapat mengaburkan maksud sehingga dapat membingungkan para pembaca. Apabila ada sebuah paragraf yang memiliki dua kalimat topik, paragraf tersebut dapat dikatakan tidak memiliki unsur kesatuan. Paragraf harus memperlihatkan suatu maksud dengan jelas, yang biasanya didukung oleh sebuah kalimat topik atau kalimat utama.

2) Kepaduan (coherence)
Paragraf yang baik harus memperlihatkan hubungan antarkalimat yang erat. Paragraf yang dibangun dari kalimat-kalimat yang loncat-loncat berarti paragraf tersebut tidak koheren atau tidak padu. Apabila tidak ada kepaduan (koherensi), loncatan-loncatan pikiran, urutan waktu dan fakta yang tidak teratur akan terjadi sehingga menyimpang dari kalimat topik.
Selanjutnya, bagaimana cara menciptakan kepaduan antarkalimat dalam sebuah paragraf? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, masih ingatkan Anda ketika Anda masih kecil menyanyikan lagu Bangun Tidur? Secara lengkap, apabila ditulis dalam sebuah paragraf akan berbunyi sebagai berikut.
Bangun tidur kuterus mandi (1). Tidak lupa menggosok gigi (2). Habis mandi kutolong ibu (3). Membersihkan tempat tidurku (4).

Paragraf di atas dibangun atas empat kalimat. Kalimat pertama sampai keempat saling berhubungan karena adanya urut-urutan waktu dan tempat. Waktu menggosok gigi dilakukan sebelum mandi, dan setelah mandi membantu ibu di kamar tidur untuk membersihkan tempat tidur.

3) Kelengkapan (completeness)
Paragraf dikatakan lengkap apabila dibangun atas beberapa kalimat penjelas yang cukup untuk menunjang kejelasan kalimat topik. Paragraf dikatakan tidak lengkap apabila hanya dikembangkan dan diperluas dengan pengulangan-pengulangan, atau kurang memiliki kalimat penjelas yang memadai. Dengan demikian, paragraf yang mengandung unsur kelengkapan selalu dibangun atas beberapa kalimat, bukan satu atau dua kalimat. Paragraf yang hanya memiliki satu atau dua kalimat dapat membuat pembaca merasa kesulitan memahami makna detil dalam paragraf.

Contoh paragraf yang baik :

Ketahuilah, sebaik-baik amal adalah jika engkau mengetahui apa yang dikehendaki Allah dalam kitab-Nya, dan mengetahui apa yang dimaksudkan oleh utusan-Nya dalam sunnahnya. Perbanyaklah mengkaji al-Qur’an dan mempelajarinya bersama saudara-saudaramu. Hafalkan ayat yang mudah dihafal. Dengarkan bacaan al-Qur’an. Dan, berbuatlah sesuai dengan pesan al-Qur’an. Ketidaktahuan akan syariah adalah kegelapan hati, dan menyebabkan hati bingung. Dirikanlah perpustakaan yang walaupun bukunya sedikit tapi bermanfaat. Awas, waktumu terbuang sia-sia hanya untuk mendengarkan musik atau hanya sekadar menonton sinetron. Setiap detik dari usiamu akan dicatat, maka investasikan usiamu untuk keridhaan Allah swt.

Kamis, 11 Maret 2010

MENUMBUHKAN SIKAP BAHASA YANG POSITIF TERHADAP BAHASA INDONESIA BAGI MAHASISWA

Bahasa merupakan suatu pengantar manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain. Mulai dari balita hingga dewasa manusia mempunyai tingkat kemampuan berbahasa yang berbeda. Tentu saja, seiring berjalannya waktu kemampuan tersebut akan semakin baik. Sehingga seseorang akan mampu menyesuaikan keberadaannya dengan kondisi disekitarnya.
Namun, seperti telah diketahui manusia juga banyak menciptakan banyak ragam bahasa. Begitu juga tingkat kehalusan dan gaya berbahasa. Di kalangan mahasiswa pun memiliki gaya berbahasa yang berbeda. Sebagian besar mahasiswa menggunakan gaya bahasa yang santai dalam berkomunikasi. Mereka memiliki tatanan atau kosa kata yang cenderung melenceng bahkan tidak sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) yang ditetapkan dalam Bahasa Indonesia.
Bagaimana cara menumbuhkan sikap bahasa yang positif bagi mahasiswa? Tentu saja kembali pada individu masing-masing. Mahasiswa merupakan tingkat pelajar berlevel tinggi, hal ini tentu saja merupakan cerminan bahwa seorang mahasiswa tentu telah memiliki kemampuan intelektual yang tinggi pula termasuk dalam berbahasa. Mahasiswa diharapkan dapat berkomunikasi dengan baik di bidang formal maupun informal.
Semua itu memerlukan dorongan motivasi yang besar baik dari mahasiswa itu sendiri maupun dari luar seperti faktor pengajar. Pengajar mempunyai peranan besar dalam menumbuhkan motivasi tersebut. Terkadang pola pengajaran yang menjenuhkan dapat menghilangkan minat belajar. Tapi, hal itu tentu saja tidak akan terjadi jika para pengajar menerapkan :
· metode-metode pengajaran yang menarik dan menyenangkan
· mampu mengajak mahasiswa berinteraksi dengan baik
· pengajar harus luwes dan menyenangkan dalam penyampaian materi
· penyajian materi yang berimbang sehingga tidak terkesan menjenuhkan
· pengajar harus bersemangat dan tidak kaku sehingga suasana belajar mengajar pun berlangsung lancar dan menyenangkan.
Dengan demikian, diharapkan dapat menumbuhkan minat dan motivasi yang besar bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kemampuannya di lingkungan sosial sehari-hari.


TUGAS II :
1. Apa yang dimaksud dengan ejaan?
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan bunyi ujaran dan bagaimana hubungan antar lambang-lambang itu ( pemisahan dan penggabungannya dalam suatu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.

2. Apa saja yang menjadi ruang lingkup ejaan?
Hal-hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan adalah:
Ø Perubahan Huruf
Ø Penulisan Huruf
Ø Penulisan Kata
Ø Penulisan Unsur Serapan dan
Ø Pemakaian Tanda Baca

3. Perlukah sebuah bahasa memiliki ejaan? Mengapa?
Perlu, sebab ejaan merupakan ketentuan yang harus dipatuhi oleh pengguna demi keteraturan dan keseragaman bentuk yang akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
Dengan demikian akan tercipta keserasian dalam berbahasa sehingga akan membuat bahasa terdengar lebih baik dan menyenangkan.

4. Apa peranan ejaan bagi ragam tulis?
Ø Sebagai sumber referensi atau rujukan bagi banyak orang dalam menulis
Ø Mencegah terjadinya multi penafsiran pada tiap-tiap orang yang membaca karena telah terpenuhinya aspek-aspek berikut ini :
· Pemilihan kosa kata dilakukan secara tepat
· Pembentukan kata dilakukan secara sempurna
· Kalimat yang dibentuk dengan struktur yang lengkap
· Paragraf dikembangkan secara lengkap dan terpadu.

Kamis, 19 November 2009

Kontribusi Koperasi dalam Perekonomian Indonesia

Kontribusi Koperasi dalam Perekonomian Indonesia

PERKEMBANGAN KELEMBAGAAN KOPERASI SECARA NASIONAL PERIODE 2005-2006

Kelembagaan Koperasi periode 2005 – 2006 (134.963 – 141.326) mengalami perkembangan secara signifikan dengan laju perkembangan sebanyak 6.363 unit atau 4,71 persen.

Perkembangan jumlah anggota koperasi periode 2005-2006 (27.286.784 – 27.776. 133) mengalami peningkatan sebanyak 489.349 orang atau 1,79 persen.

Disisi lain, perkembangan transaksi usaha koperasi yang dicerminkan oleh besarnya nilai volume usaha koperasi mengalami peningkatan yang cukup signifikan (40.831.693,56 – 62.718.499,78) sebesar 53,60 persen atau Rp. 21.886.806,22 juta.

Seiring dengan peningkatan volume usaha koperasi, perkembangan Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi nasional periode 2005-2006 (2.198.320,31 – 3.216.817,65) mengalami peningkatan sebesar 46,33 persen atau Rp. 1.018.497,34 juta.

1. Jumlah koperasi tahun 2006 : 141.326

2. Jumlah anggota nasional : 27.776. 133

3. Volume usaha nasional : 62.718.499,78

4. SHU (Sisa Hasil Usaha) : 3.216.817,65

Analisa :

1. Anggota/Koperasi : 27.776. 133/141.326 = 196.54 orang/koperasi

2. Volume usaha/Koperasi : 62.718.499,78/141.326 = 44.378,60/kop/thn

3. SHU/Koperasi : 3.216.817,65/141.326 = 2.276,16/th

4. Volume usaha/Anggota : 62.718.499,78/27.776. 133 = 225,80/anggota

5. SHU/Anggota : 3.216.817,65/27.776. 133 = 11.581,230/org/thn

6. Volume usaha/SHU : 62.718.499,78/3.216.817,65 = 0,05 > 50%/thn

Minggu, 18 Oktober 2009

Jenis-jenis Koperasi menurut UU Nomor 25 Tahun 1992 Tentang Perkoperasian

Koperasi secara umum dapat dikelompokkan menjadi koperasi konsumen, koperasi produsen dan koperasi kredit (jasa keuangan). Koperasi dapat pula dikelompokkan berdasarkan sektor usahanya.

  • Koperasi Simpan Pinjam

  • Koperasi Konsumen

  • Koperasi Produsen

  • Koperasi Pemasaran

  • Koperasi Jasa



Pengertian tiap-tiap Koperasi



Koperasi Simpan Pinjam (KSP) ataupun koperasi kredit (Kopdit)

Sesuai dengan namanya, adalah koperasi yang bergerak di bidang usaha simpanan dan pinjaman.

Jumlah koperasi yang fokus di bidang keuangan mikro ini, sesuai data (2005) sebanyak 1.598 unit. Jika digabung dengan Unit Simpan Pinjam (USP) yang terdapat di sebagian besar koperasi sebagai unit otonom, menjadi 38.083 unit. Persisnya jumlah USP-nya mencapai 36.495 unit.

Contoh, KSP adalah Kospin Jasa Pekalongan, KSP Kodanua, KSP Kowika Jaya, Jakarta dan KSP Arta Prima di Ambarawa, Magelang. Contoh koperasi kredit adalah Kopdit Sehati, Jakarta Selatan dan Kopdit Pancur Kasih di Kalimantan Barat.


Koperasi Konsumen

Koperasi yang beranggotakan para konsumen dengan menjalankan kegiatan jual beli, menjual barang konsumsi. Koperasi jenis ini adalah, kopkar dan koperasi pegawai (KPRI), serta KSU dan KUD. Cuma dua nama terakhir tersebut selain menjual barang konsumsi juga kebutuhan lain. Misal KUD, lingkup usahanya biasanya disesuaikan dengan kondisi atau komoditi setempat. Semisal KUD Mina untuk lingkungan nelayan.

Tujuannya adalah untuk memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi anggotanya dengan cara mengadakan barang atau jasa yang murah, berkualitas, dan mudah didapat.

Sewaktu era orde baru ada pembedaan nama untuk koperasi yang usahanya lebih dari satu jenis. Kebijakan ini dimaksudkan agar mempermudah dalam hal pembinaan. Yaitu antara koperasi yang dikhususkan tumbuh di desa-desa dan perkotaan. Untuk perkotaan, namanya KSU alias Koperasi Serba Usaha dan KUD untuk di pedesaan.

Contoh-contoh koperasi konsumen adalah kopkar/kopeg, Koperasi Pegawai Indosat (Kopindosat), KPRI adalah Koperasi Keluarga Guru Jakarta (KKGJ), KSU Tunas Jaya di Bendungan Hilir, Jakarta, KUD Setia Budi di Brebes dan KUD Mino Saroyo (nelayan) di Cilacap, Jawa Tengah.


Koperasi Produsen


Koperasi produsen adalah koperasi yang beranggotakan orang orang yang melakukan kegiatan produksi (produsen). Tujuannya adalah memberikan keuntungan yang sebesar besarnya bagi anggotanya dengan cara menekan biaya produksi serendah rendahnya dan menjual produk dengan harga setinggi tingginya. Untuk itu, pelayanan koperasi yang dapat digunakan oleh anggota adalah Pengadaan bahan baku dan Pemasaran produk anggotanya.

Koperasi Pemasaran

Definisi Koperasi Pemasaran adalah koperasi yang melakukan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya atau anggotanya. Atau koperasi yang beranggotakan orang-orang yang mempunyai kegiatan di bidang pemasaran barang-barang dagangan. Misalnya, koperasi pemasaran ternak sapi anggotanya adalah pedagang sapi, koperasi pemasaran elektronik anggotanya adalah pedagang barang-barang elektronik dan koperasi pemasaran alat-alat tulis kantor anggotanya adalah pedagang barang-barang alat tulis kantor.

Koperasi Jasa

Koperasi jenis ini didirikan untuk memberikan pelayanan (jasa) kepada para anggotanya. Ada beberapa macam Koperasi Jasa. Diantaranya, koperasi angkutan memberi jasa angkutan barang atau orang. Didirikan oleh orang-orang yang mempuyai kegiatan di bidang jasa angkutan barang atau orang. Koperasi perumahan memberi jasa penyewaan rumah sehat dengan sewa yang cukup murah atau menjual rumah dengan harga murah. Koperasi asuransi memberi jasa jaminan kepada para anggotanya, seperti asuransi jiwa, asuransi pinjaman, asuransi kebakaran. Anggota koperasi ini adalah orang-orang yang bergerak di bidang jasa asuransi.

Contoh koperasi jasa angkutan yang anggotanya para pemilik angkutan, yaitu Koperasi Wahana Kalpika (KWK), Kowanbisata, Kopaja (di Jakarta), Koperasi Angkutan Bekasi (Koasi), dll.


Perbedaan dari masing-masing koperasi :


  • Koperasi Simpan Pinjam > koperasi yang khusus bergerak di bidang simpanan dan pinjaman

  • Koperasi Konsumen > koperasi beranggotakan para konsumen dengan menjalankan kegiatannya jual beli menjual barang konsumsi

  • Koperasi Produsen > koperasi beranggotakan para pengusaha kecil (UKM) dengan menjalankan kegiatan pengadaan bahan baku dan penolong untuk anggotanya.

  • Koperasi Pemasaran Koperasi > yang menjalankan kegiatan penjualan produk/jasa koperasinya atau anggotanya

  • Koperasi Jasa Koperasi > yang bergerak di bidang usaha jasa lainnya.